Tampilan terbaik menggunakan Google chrome dan Mozilla +5 layar 1280x854
Bicarakan Yang Terlupakan
Tampilan terbaik menggunakan Google chrome dan Mozilla +5 layar 1280x854
Tampilan terbaik menggunakan Google chrome dan Mozilla +5 layar 1280x854
Tampilan terbaik menggunakan Google chrome dan Mozilla +5 layar 1280x854
Tampilan terbaik menggunakan Google chrome dan Mozilla +5 layar 1280x854
Tampilan terbaik menggunakan Google chrome dan Mozilla +5 layar 1280x854
Tampilan terbaik menggunakan Google chrome dan Mozilla +5 layar 1280x854
Tampilan terbaik menggunakan Google chrome dan Mozilla +5 layar 1280x854
Bila sobat ke kota Palembang Kota Metropolitan ,tak lengkap rasanya bila sobat berkunjung tanpa mengunjungi Jembatan Ampera,salah satu kebanggaan wong Kito.
Helo sobat sharelikers dimanapun sobat berada,kali ini saya akan mengajak sobat untuk kenal lebih dekat dengan Salah satu bangunan yang bernilai historis tinggi di daerah saya,sumatera selatan,yaitu Jembatan Ampera,yups siapa yang tidak kenal dengan Jembatan satu ini,Jembatan yang arsitekturnya sangat mirip dengan jembatan vancouver Bridge Di Amerika ini memiliki sejarah panjang dan menjadi saksi bisu kemajuan bumi sebimbing sekundang sejak zaman jepang dulu hingga saat ini Jika sobat jalan-jalan kepalembang,sobat pastinya tidak mau ketinggalan akan menyaksikan "Ampera",Jembatan yang berdiri kokoh membelah sungai musi dengan berat 944ton dan panjang jembatan 1117 m,dan lebar 22 m ini memiliki dua menara yang tingginya 63 m dari permukaan tanah,serta jarak antara kedua menara 75 meter ini memiliki keunikan di masa dulu dalam sejarah pembuatannya. | ![]() AMPERA |
Sudah dikatakan sebelumnya Jembatan kota yang terkenal dengan makanan khas "pempek palembang" ini memiliki nilai historis yang tinggi di sumatera selatan,selain BKB (benteng Kuto Besak) ini berawal dari ide untuk menyatukan dua daratan di Kota Palembang ”Seberang Ulu dan Seberang Ilir” dengan jembatan, sebetulnya sudah ada sejak zaman Gemeente Palembang, tahun 1906. Saat jabatan Walikota Palembang dijabat Le Cocq de Ville, tahun 1924, ide ini kembali mencuat dan dilakukan banyak usaha untuk merealisasikannya. Namun, sampai masa jabatan Le Cocq berakhir, bahkan ketika Belanda hengkang dari Indonesia, proyek itu tidak pernah terealisasi.
Pada masa kemerdekaan, gagasan itu kembali mencuat. DPRD Peralihan Kota Besar Palembang kembali mengusulkan pembangunan jembatan kala itu, disebut Jembatan Musi dengan merujuk na-ma Sungai Musi yang dilintasinya, pada sidang pleno yang berlangsung pada 29 Oktober 1956.
Usulan ini sebetulnya tergolong nekat sebab anggaran yang ada di Kota Palembang yang akan dijadikan modal awal hanya sekitar Rp 30.000,00. Pada tahun 1957, dibentuk panitia pembangunan, yang terdiri atas Penguasa Perang Komando Daerah Militer IV/Sriwijaya, Harun Sohar, dan Gubernur Sumatera Selatan, H.A. Bastari. Pendampingnya, Walikota Palembang, M. Ali Amin, dan Indra Caya. Tim ini melakukan pendekatan kepada Bung Karno agar mendukung rencana itu.
Usaha yang dilakukan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan dan Kota Palembang, yang didukung penuh oleh Kodam IV/Sriwijaya ini kemudian membuahkan hasil. Bung Karno kemudian menyetujui usulan pembangunan itu.
Karena jembatan ini rencananya dibangun dengan masing-masing kakinya di kawasan 7 Ulu dan 16 Ilir, yang berarti posisinya di pusat kota, Bung Karno kemudian mengajukan syarat. Yaitu, penempatan boulevard atau taman terbuka di kedua ujung jembatan itu. Dilakukanlah penunjukan perusahaan pelaksana pembangunan, dengan penandatanganan kontrak pada 14 Desember 1961, dengan biaya sebesar USD 4.500.000 (kurs saat itu, USD 1 = Rp 200,00).
Pembangunan jembatan ini dimulai pada bulan April 1962, setelah mendapat persetujuan dari Presiden Soekarno. Biaya pembangunannya diambil dari dana pampasan perang Jepang. Bukan hanya biaya, jembatan inipun menggunakan tenaga ahli dari negara tersebut
Pada awalnya, jembatan Ampera ini, dinamai Jembatan Bung Karno. Menurut sejarawan Djohan Hanafiah, pemberian nama tersebut sebagai bentuk penghargaan kepada Presiden RI pertama itu. Bung Karno secara sungguh-sungguh memperjuangkan keinginan warga Palembang, untuk memiliki sebuah jembatan di atas Sungai Musi.
Peresmian pemakaian jembatan dilakukan pada tahun 1965, sekaligus mengukuhkan nama Bung Karno sebagai nama jembatan. Pada saat itu, jembatan ini adalah jembatan terpanjang di Asia tenggara.Setelah terjadi pergolakan politik pada tahun 1966, ketika gerakan anti-Soekarno sangat kuat, nama jembatan itu pun diubah menjadi Jembatan Ampera (Amanat Penderitaan Rakyat).
Sekitar tahun 2002, ada wacana untuk mengembalikan nama Bung Karno sebagai nama Jembatan Ampera ini. Tapi usulan ini tidak mendapat dukungan dari pemerintah dan sebagian masyarakat.
![]() | ![]() |
Pada awalnya, bagian tengah badan jembatan ini bisa diangkat ke atas agar tiang kapal yang lewat dibawahnya tidak tersangkut badan jembatan. Bagian tengah jembatan dapat diangkat dengan peralatan mekanis, dua bandul pemberat masing-masing sekitar 500 ton di dua menaranya. Kecepatan pengangkatannya sekitar 10 meter per menit dengan total waktu yang diperlukan untuk mengangkat penuh jembatan selama 30 menit.
Pada saat bagian tengah jembatan diangkat, kapal dengan ukuran lebar 60 meter dan dengan tinggi maksimum 44,50 meter, bisa lewat mengarungi Sungai Musi. Bila bagian tengah jembatan ini tidak diangkat, tinggi kapal maksimum yang bisa lewat di bawah Jembatan Ampera hanya sembilan meter dari permukaan air sungai.
Sejak tahun 1970, aktivitas turun naik bagian tengah jembatan ini sudah tidak dilakukan lagi. Alasannya, waktu yang digunakan untuk mengangkat jembatan ini dianggap mengganggu arus lalu lintas di atasnya.Pada tahun 1990, kedua bandul pemberat di menara jembatan ini diturunkan untuk menghindari jatuhnya kedua beban pemberat ini.
Jembatan ampera pernah direnovasi pada tahun 1981, dengan menghabiskan dana sekitar rp 850 juta. Renovasi dilakukan setelah muncul kekhawatiran akan ancaman kerusakan jembatan ampera bisa membuatnya ambruk.
Bersamaan dengan eforia reformasi tahun 1997, beberapa onderdil jembatan ini diketahui dipreteli pencuri. Pencurian dilakukan dengan memanjat menara jembatan, dan memotong beberapa onderdil jembatan yang sudah tidak berfungsi. Warna jembatan pun sudah mengalami 3 kali perubahan dari awal berdiri berwarna abu-abu terus tahun 1992 di ganti kuning dan terakhir di tahun 2002 menjadi merah sampai sekarang.
Bahkan belum Lama ini terjadi kebakaran hebat dibawah Jembatan Ampera tahun 2011 ini serta kerusuhan berdarah ,yang menghanguskan bagian bawah jembatan serta menjadi saksi bisu kebrutalan manusia tersebut.Hal ini sangat miris,dan Pemerintah pun bergerak pasca kebakaran itu.Diharapkan Ikon kota Palembang ini tetap berdiri kokoh untuk waktu yang lama,apalagi dalam waktu dekat bakal ada Sea Games Di Sumatera Selatan.
Bagi Orang palembang,Ampera adalah salah satu saksi dari sejarah Indonesia yang tak lekang oleh zaman,Dan seperti asal mula namanya ampera adalah simbol Amanah Penderitaan rakyat Terhadap para pemimpin Bangsanya yang kini Mulai Luntur di Indonesia saat ini.Semoga postingan Ampera ini bermanfaat serta mencerahkan bagi kita semua.Amin.
referensi:WIkipedia keyword:ampera
![]() |
Tampilan terbaik menggunakan Google chrome dan Mozilla +5 layar 1280x854
Subhanallah,di Bulan yang suci ini alangkah baiknya bila kita menyimak tokoh yang dijanjikan Surga oleh Rasulullah SAw ini .Seperti yang sering kita dengar mungkin beberapa tokoh yang sering kita dengar kisahnya adalah abubakar ,Umar,usman,serta Ali ,Nah kali ini YANG PENTING SHARE tertarik untuk mengangkat kisah Saad Bin Abi waqqash,diantara kesepuluh sahabat nabi yang dijanjikan Surga Oleh Nabi bahkan dengan jaminan Orangtua nabi sendiri,subhanallah,begitu mulianya sahabat satu ini,yuk kita simak kisahnya berikut Ini,dan semoga dapat diambil hikmahnya
Alkisah di zaman saat islam masih merintis sayapnya,suatu Malam yang telah larut, ketika seorang pemuda bernama Sa’ad bin Abi Waqqash terbangun dari tidurnya. Baru saja ia bermimpi yang sangat mencemaskan. Ia merasa terbenam dalam kegelapan, kerongkongannya terasa sesak, nafasnya terengah-engah, keringatnya bercucuran, keadaan sekelilingnya gelap-gulita. Dalam keadaan yang demikian dahsyat itu, tiba-tiba dia melihat seberkas cahaya dari langit yang terang-benderang.Maka dalam sekejap, berubahlah dunia yang gelap-gulita menjadi terang benderang dengan cahaya tadi. Cahaya itu menyinari seluruh rumah penjuru bumi. Bersaman dengan sinar yang cemerlang itu, Sa’ad bin Abi Waqqash melihat tiga orang lelaki, yang setelah diamati tidak lain adalah Ali bin Abi Thalib r.a., Abu Bakar bin Abi Quhafah dan Zaid bin Haritsh.

Sejak ia bermimpi yang demikian itu, mata Sa'ad bin Abi Waqqash tidak mau terpejam lagi. Kini Sa’ad bin Abi Waqqash duduk merenung untuk memikirkan arti mimpi yang baginya sangat aneh. Sampai sinar matahari mulai meninggi, rahasia mimpi yang aneh tersebut masih belum terjawab. Hatinya kini bertanya-tanya, berita apakah gerangan yang hendak saya peroleh. Seperti biasa, di waktu pagi, Sa’ad dan ibunya selalu makan bersama-sama. Dalam menghadapi hidangan pagi ini, Sa’ad lebih banyak berdiam diri. Sa’ad adalah seorang pemuda yang sangat patuh dan taat kepada ibunya.
Namun, mimpi dashyat semalam dirahasiakannya, tidak diceritakan kepada ibu yang sangat dicintai dan dihormatinya. Sedemikian dalam sayangnya Sa’ad pada ibunya, sehingga seolah-olah cinta Sa’ad hanya untuk ibunya yang telah memelihara dirinya sejak kecil hingga dewasa dengan penuh kelembutan dan berbagai pengorbanan. Pekerjan Sa’ad adalah membuat tombak dan lembing yang diruncingkan untuk dijual kepada pemuda-pemuda Makkah yang senang berburu, meskipun ibunya terkadang melarangnya melakukan usaha ini.
Ibu Sa’ad yang bernama Hamnah binti Suyan bin Abu Umayyah adalah seorang wanita hartawan keturunan bangsawan Quraisy, yang memiliki wajah cantik dan anggun. Disamping itu, Hamnah juga seorang wanita yang terkenal cerdik dan memiliki pandangan yang jauh. Hamnah sangat setia kepada agama nenek moyangnya, yaitu penyembah berhala. Pada suatu hari tabir mimpi Sa'ad mulai terbuka, ketika Abu Bakar mendatangi Sa'ad di tempat pekerjaannya dengan membawa berita dari langit tentang diutusnya Muhammad Saw, sebagai Rasul Allah. Ketika Sa’ad bertanya, siapakah orang-orang yang telah beriman kepada Muhammad Saw, dijawab oleh Abu Bakar : dirinya sendiri, Ali bin Abi Thalib r.a., dan Zaid bin Haritsh.
Muhammad Saw, mengajak manusia menyembah Allah Yang Esa, Pencipta langit dan bumi. Seruan ini telah mengetuk pintu hati Sa’ad untuk menemui Rasul Allah Saw, untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Kalbu Sa'ad telah disinari cahaya iman, meskipun usianya waktu itu baru menginjak tujuh belas tahun. Sa’ad termasuk dalam deretan lelaki pertama yang memeluk Islam selain Ali bin Abi Thalib r.a., Abu Bakar r.a. dan Zaid bin Haritsh. Cahaya agama Allah yang memancar ke dalam kalbu Sa’ad, sudah demikian kuat, meskipun ia mengalami ujian yang tidak ringan dalam memeluk agama Allah ini. Diantara ujian yang dirasa paling berat adalah, karena ibunya yang paling dikasihi dan disayanginya itu tidak rela ketika mengetahui Sa’ad memeluk Islam.
Sejak memeluk Islam, Sa'ad telah melaksanakan shalat dengan sembunyi-sembunyi di kamarnya. Sampai pada suatu saat, ketika ia sedang bersujud kepada Allah, secara tidak sengaja, ibu yang belum mendapat hidayah dari Allah ini melihatnya. Dengan nada sedikit marah, Hamnah bertanya :"Sa'ad, apakah yang sedang kau lakukan ?" Rupanya Sa’ad sedang berdialog dengan Tuhannya; ia tampak tenang dan khusyu' sekali. Setelah selesai menunaikan Shalat, ia berbalik menghadap ibunya seraya berkata lembut."Ibuku sayang, anakmu tadi bersujud kepada Allah Yang Esa, Pencipta langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya."
Mendengar jawaban anaknya, sang ibu mulai naik darah dan berkata : "Rupanya engkau telah meninggalkan agama nenek moyang kita, Tuhan Lata, Manata dan Uzza. Ibu tidak rela wahai anakku. Tinggalkanlah agama itu dan kembalilah kepada agama nenek moyang kita yang telah sekian lama kita anut". "Wahai ibu, aku tidak dapat lagi menyekutukan Allah, Dia-lah Dzat Yang Tunggal, tiada yang setara dengan Dia, dan Muhammad adalah utusan Allah untuk seluruh umat manusia," jawab Sa'ad. Kemarahan ibunya semakin menjadi-jadi, karena Sa’ad tetap bersikeras dengan keyakinannya yang baru ini.
Oleh karena itu, Hamnah berjanji tak akan makan dan minum sampai Sa’ad kembali taat memeluk agamanya semula. Sehari telah berlalu, ibu ini tetap tidak mau makan dan minum. Hati Sa’ad merintih melihat ibunya, tetapi keyakinannya terlalu mahal untuk dikorbankan. Sa'ad datang membujuk ibunya dengan mengajaknya makan dan minum bersama, tapi ibunya menolak dengan harapan agar Sa’ad kembali kepada agama nenek moyangnya. Kini Sa’ad makan sendirian tanpa ditemani ibunya. Hari keduapun telah berlalu, ibunya tampak letih, wajahnya pucat-pasi dan matanya cekung, ia kelihatan lemah sekali. Tidak ada sedikitpun makanan dan minuman yang dijamahnya. Sa’ad sebagai seorang anak yang mencintai ibunya bertambah sedih dan terharu sekali melihat keadaan Hamnah yang demikian.
Malam berikutnya, Sa’ad kembali membujuk ibunya,agar mau makan dan minum. Namun ibunya adalah seorang wanita yang berpendirian keras, ia tetap menolak ajakan Sa’ad untuk makan, bahkan ia kembali merayu Sa’ad agar menuruti perintahnya semula. Tetapi Sa’ad tetap pada pendiriannya, ia tak hendak menjual agama dan keimanannya kepada Allah dengan sesuatupun, sekalipun dengan nyawa ibu yang dicintainya. Imannya telah membara, cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya telah sedemikian dalam.
Di depan matanya ia menyaksikan keadaan ibunya yang meluluhkan hatinya, namun dari lidahnya keluar kata-kata pasti yang membingungkan lbunya; Demi Allah, ketahuilah wahai ibunda sayang, seandainya ibunda memiliki seratus nyawa lalu ia keluar satu persatu, tidaklah nanda akan meninggalkan agama ini walau ditebus dengan apa pun juga. Maka sekarang, terserah kepada ibunda, apakah ibunda akan makan atau tidak". Kata kepastian yang diucapkan anaknya dengan tegas membuat ibu Sa’ad bin Abi Waqqash tertegun sesaat.
Akhirnya ia mulai mengerti dan sadar, bahwa anaknya telah memegang teguh keyakinannya. Untuk menghormati ibunya, Sa’ad kembali mengajaknya untuk makan dengannya, karena ibu ini telah merasakan kelaparan yang amat sangat dan ia telah memaklumi pula bahwa anak yang dicintainya tidak akan mundur setapakpun dari agama yang dianutnya, maka ibu Sa’ad mundur dari pendiriannya dan memenuhi ajakan anaknya untuk makan bersama. Alangkah gembiranya hati Sa’ad bin Abi Waqqash. Ujian iman ternyata dapat diatasinya dengan ketabahan dan memohon pertolongan Allah.
Keesokan paginya, Sa’ad pergi menuju ke rumah Nabi Saw. Sewaktu ia berada di tengah majlis Nabi Saw, turunlah firman Allah yang menyokong pendirian Sa’ad bin Abi Waqqash:
“Dan Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada ibu-bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah lemah dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua ibu-bapakmu; hanya kepada-Ku-lah tempat kamu kembali. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu turuti keduanya, dan bergaullah dengan keduanya didunia dengan baik dan ikutilah jalan orang-orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah tempat kembalimu. Maka Kuberitahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan". (Q.S. Luqman: 14-15)
Apabila Sa'ad bermohon diberi kemenangan oleh Allah pastilah Allah akan mengabulkan doanya. Pada suatu hari, ketika Rasul Allah Saw, sedang duduk bersama para sahabat, tiba-tiba beliau menatap ke langit seolah mendengar bisikan malaikat. Kemudian Rasul kembali menatap kepada sahabatnya dengan berkata : "Sekarang akan ada di hadapan kalian seorang laki-laki dari penduduk surga".
Mendengar ucapan Rasul Allah Saw, para sahabat menengok ke kanan dan ke kiri pada setiap arah, untuk melihat siapakah gerangan lelaki berbahagia yang menjadi penduduk surga. Tidak lama berselang datanglah laki-laki yang ditunggu itu, dialah Sa’ad bin Abi Waqqash. Disamping terkenal sebagai anak yang berbakti kepada orang tua, Sa’ad bin Abi Waqash juga terkenal karena keberaniannya dalam peperangan membela agama Allah.
Ketika tentara muslimin lari kocar-kacir dalam perang Uhud, Rasulullah saw. tinggal di medan tempur dengan kelompok kecil tentara muslimin tidak lebih dari sepuluh orang. Satu diantaranya adalah Sa’ad bin Abi Waqqash. Sa’ad berdiri melindungi Rasulullah saw. dengan panahnya. Tidak satupun anak panah yang dilepaskan Sa’ad dari busur melainkan mengenai sasaran dengan jitu, dan orang musyrik yang terkena, langsung tewas seketika. Tatkala Rasulullah saw. melihat Sa’ad seorang pemanah jitu, beliau berkata memberinya semangat, ”Panahlah hai Sa’ad ! Ayah-Ibuku menjadi jaminan bagimu”. Sa’ad bin Abi Waqqash, hampir selalu menyertai Nabi Saw dalam setiap pertempuran.
Diriwayatkan dari Qais, bahwa Sa’ad menceritakan kepadaku bahwa Rasulullah saw pernah bersabda,
“Ya Allah, kabulkanlah Sa’ad jika dia berdoa.”
Setelah didoakan seperti itu,maka setiap doanya senantiasa dikabulkan oleh Allah. Diriwayatkan dari Jabir bin Samurah, dia berkata,“Suatu ketika penduduk Mekah mengadukan Sa’ad bin Abi Waqqash kepada Umar bin Khattab, mereka mengatakan bahwa shalatnya tidak baik. Sa’ad kemudian membantah, ‘Aku mengerjakan shalat sesuai dengan shalatnya Rasulullah saw. Shalatku pada waktu isya, aku lakukan dengan lama pada dua rakaat pertama sedangkan pada dua rakaat terakhir aku lakukan dengan ringkas.’ Mendengar itu Umar bin Khattab berkata, “Berarti itu hanya prasangka terhadapmu wahai Abu Ishaq.’
Dia kemudian mengutus beberapa orang untuk bertanya tentang dirinya di Kufah, ternyata ketika mereka mendatangi masjid-masjid di Kuffah, mereka mendapat informasi yang baik, hingga ketika mereka datang ke masjid Bani Isa, seorang pria bernama Abu Sa’dah berkata, ‘Demi Allah, dia tidak adil dalam menetapkan hukum, tidak membagi secara adil dan tidak berjalan (untuk melakukan pemeriksaan) di waktu malam. Setelah itu Sa’ad bin Abi Waqqash berkata, ‘Ya Allah, jika dia bohong maka butakanlah matanya, panjangkanlah usianya dan timpakanlah fitnah kepadanya.’”
Abdul Malik berkata,“Pada saat itu aku melihat Abu Sa’dah menderita penyakit tuli dan jika ditanya bagaimana keadaanmu, dia menjawab, ‘Orang tua yang terkena fitnah, aku terkutuk oleh doa Sa’ad.”(HR. Muttafaq ‘Alaihi).
Diriwayatkan dari Ibnu Al Musayyib, bahwa suatu ketika seorang pria mencela Ali bin Abu Thalib, Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awwam. Mendengar itu, Sa’ad menegurnya,“Janganlah kamu mencela sahabat-sahabatku.’ Tetapi pria itu tidak mau menerima. Setelah itu Sa’ad berdiri, lalu mengerjakan shalat dua rakaat dan berdoa. Tiba-tiba seekor unta bukhti (peranakan unta Arab dan Dakhil) muncul menyeruduk pria tersebut hingga jatuh tersungkur di atas tanah, lantas meletakkannya di antara dada dan lantai hingga akhirnya ia terbunuh. Aku melihat orang-orang mengikuti Sa’ad dan berkata, ‘Selamat kamu wahai Abu Ishaq, doamu terkabulkan.’”
Sejarah mencatat, hari-hari terakhir Panglima Sa’ad bin Abi Waqqash ialah ketika ia memasuki usia delapan puluh tahun. Dalam keadaan sakit Sa’ad bin Abi Waqqash berpesan kepada para sahabatnya, agar ia dikafani dengan Jubah yang digunakannya dalam perang Badr, sebagai perang kemenangan pertama untuk kaum muslimin. Pahlawan perkasa ini telah menghembuskan nafas yang terakhir dengan meningalkan kenangan indah dan nama yang harum. Ada dua hal penting yang dikenang orang tentang kesatriaannya. Pertama, Sa’ad adalah orang yang pertama melepaskan anak panah dalam membela agama Allah dan juga orang yang mula-mula terkena anak panah. Dan yang kedua, Sa’ad adalah satu-satunya orang yang dijamin oleh Rasul Saw dengan jaminan kedua orang tua Nabi Saw. Ia dimakamkan di pemakaman Baqi’, makamnya para Syuhada.
sumber:Surau-alikhlas dan berbagai sumber
Tampilan terbaik menggunakan Google chrome dan Mozilla +5 layar 1280x854
Hello sharelikers dimanapun sobat berada,hufth boleh curhat dikit gak?ehmm boleh ya boleh ya,cowok kan juga boleh curhat?masa cewek aja yang boleh?#pasang muka hopefull .Horee dibolehin #alay banget seh .Nah gini ceritanya sob,Suatu hari di sebuah kota kecil hiduplah sesosok blogger yang hidupnya ,ah koq gue jadi kek buat Novel sih?
Oke sebelumnya saya mohon maaf bila belum sempat baca komentar ,bales Blogwalking,ngisi komentar ditempat sahabat yang udah ngapelin blog saya yang kering kerontang ini,cuz saya seharian kemaren sibuk jadi Kuli #whats??Kuli??upss ini kuli bukan sembarang kuli,upahnya gede bangets,upahnya keringat sehari semalam,bikin gue nyenyak banget tidur,ahaha ya iyalah capek luar biasa.Gue kemaren abis ngangkat ngangkat barang soalnya gue angkat kaki dari rumah lama,hehee alias pindah rumah.
Yupss,rumah yang gue tempatin sebelumnya dah dikontrak oleh orang lain,so gue harus cari tumpangan baru hahaha lebay,akhirnya gue bisa numpang ngerepotin dirumah tante gue yang kebetulan juga satu kota.Nah cerita angkat mengangkat itu dimulai dari pagi ampe sore,dan sialnya Gue harus ngepak semua perkakas serta "kolor" gue dalam kardus,gak kebayang dah tumpukan kolor + buku-buku ajaran "Linggis' yang harus gue angkut.Buku -buku tebel yang isinya bahasanya si Bruno mars itu loh.wkwkw
By the way alhasil gue seharian ngangkut kolor yang beraneka ragam warna itu ke tempat inang gue yang baru ,jiahaha,kayak parasit dong?enggak deh,gue itu kayak bunga anggrek,hidup numpang tapi gak ngerugikan (berharap yang baca bolehin saya numpang saat saya gak ada tempat lagi) .Alhasil malemnya gue k.o dan ketiduran ampe pagi ini.dan gue baru online lagi (sehari gak online rasanya seratus tahun meeen!)
Nah pas gue bangun ,ponakan gue yang masih imut kayak marmut alias anak tante gue ngasihin secarik surat (bukan surat penggeledahan polisi ya) sama gue .Gue yang masih ileran itu membuka tuh surat dan wahhhhhhawww,gue histeris sekaligus geal geol sampe ponakan gue bingung dan ngaduin ketante gue entah apa yang diaduinnya ke emaknya,duh ponakan ku yang manis,jangan aduin dong tingkah oom yang lagi sarap ini sama emakmu,wkwkw bisik gue dari jauh.Apa sih isi surat tadi?penasaran kan?ternyata gue dapet hadiah voucher dari Google untuk beriklan gratis dengan saldo Rp.400.000,-(dalam bentuk voucher adwords,gak bisa dicashkan) dari mbah Gugel,waw gila gue seneng banget,thanks mbah gugel dah kasih hadiah,gue cipok ya Om gugel.mmuach.hehee



Dengan ada nya voucher ini gue berharap gue ngeblog tambah semangat dan selalu memberikan yang terbaik dari gue untuk para sahaabat sekalian,Gue gak lagi mikirin SEOan biar berjalan sebagaimana mestinya,galau gue mikirin SEO gara gara ikutan kontes TOP-1 OLi sintetic mobil-motor Indonesia itu,gak beranjak sedikitpun dari page 17 ,pengen gue nyanyiin "aku galau setengah hati kepadamu".
disatu sisi gue seneng banget ama Google yang dah baik banget dan percaya sama Yang penting share,disisi lain gue masih penasaran dengan Sistem di google yang masih misterius.Oke deh ambil positifnya aja,Semangat all,semoga sobat sekalian juga semangat ngeblognya,ngeblog jangan setengah-setengah kayak blogger galau ini ya?heheehe.sampai jumpa di episode galau berikutnya,,.,
Tampilan terbaik menggunakan Google chrome dan Mozilla +5 layar 1280x854
Tampilan terbaik menggunakan Google chrome dan Mozilla +5 layar 1280x854
Tampilan terbaik menggunakan Google chrome dan Mozilla +5 layar 1280x854
