Showing posts with label kyai kocak. Show all posts
Showing posts with label kyai kocak. Show all posts

15 Jul 2011

Rehat Bersama Kyai Kocak "Anak Adam atau Sarimin?"

Rehat Bersama Kyai Kocak "Anak Adam atau Sarimin?"

“Hedeeeeeew, capeeeee”.
“Ono opo. Kok sumpek begitu?”
“Serba cape kyai”.
“Lha, ya memang orang hidup harus cape. Kalo pengen istirahat dari cape, ya mati saja”.
“Sebenarnya cape yang kita alami ini, adalah warisan dari kesalahan sejarah”.
“Ndak usah menyalahken sejarah. Pelaku sejarah yang mungkin keliru”.
“Lha itu maksud saya. Pelaku sejarah yang membuat kita harus menanggung kesusahan hidup di sini”.
“Apa maksud sampeyan?”
“Sebenarnya, manusia seperti kita tidak perlu turun ke dunia. Sejak awal, kita hidup penuh kebahagiaan di surga. Ndak perlu cape, ndak perlu menderita. Tapi hidup penuh bahagia”.
“Lha lha lha, dari mana sampeyan dapet pemikiran seperti itu?”
“Lha, kan Al-Qur’an sendiri yang menceritakan bahwa nenek moyang manusia, Adam, melanggar larangan Tuhan. Kemudian tersusir dari surga”.


“Terus, karena Adam terusir dari surga, sampeyan merasa terusir juga, begitu?”
“Lha coba kalo Adam tidak melanggar larangan Tuhan, bukan hanya saya, kyai juga ada di surga sekarang”.
“Wah, sampeyan egois”.
“Kok egois? Egois dari Hongkong!”
“Lha iya. Sampeyan hanya menilai kepindahan Adam as dari surga ke dunia, sebatas kepentingan sampeyan”.
“Tidak juga kyai, yang merasa seperti ini bukan hanya saya”.
“Tapi saya tidak. Sampeyan itu ndak sadar terpengaruh konsep dosa warisan”.
“Lha Al-Qur’an merekam kok, bagaimana peristiwa terusir dari surga”.


“Betul. Tapi Al-Qur’an tidak menyalahkan Adam. Al-Qur’an juga memuat kisah pertobatan Adam lalu Allah mengampuni Adam seperti disebut dalam surat 2 ayat 37. Dalam Islam, dosa tidak bisa diwariskan karena bertentangan dengan konsep amal soleh. Al-Qur’an sendiri dengan tegas menyatakan, wa laa taziruu waazirotun wizro ukhroo. Sampeyan baca surat 17 ayat 15”.
“Lha pertanyaannya, mengapa Adam harus pindah ke dunia?”
“Lha ya suka-suka Allah dong. Adam saja ndak protes”.
“Jawaban kolot, ndak ilmiyah”.


“Lha sekarang kasih tau saya. Bagaimana jawaban yang ilmiyah itu?”
“Ndak cukup di sini. Terlalu panjang”.
“Halah ngelak. Hati-hati sampeyan, jangan asal mengeluarkan pikiran. Apalagi pikiran sampeyan itu hanya sekedar ingin disebut kritis. Sampeyan ndak sadar, itu bukan kritis tapi krisis”.
“He he he he … memang begitulah kyai kampung. Takut berpikir bebas”.
“Ho ho ho ho … jangan takabbur. Kebebasan itu juga punya batasan. Ndak ada yang bebas sebebas-bebasnya”


“Lha, inilah alasan kyai dan orang-orang kolot yang selalu didengung-dengungkan. Sebagai legitimasi mereka takut berpikir bebas. Kasian”.
“Oke, sekarang saya ingin tahu, sampai di mana sampeyan bisa berpikir bebas”.
“Sebenarnya saya agak malas nimpali. Tapi, demi menghormati kyai, apa boleh buat”.
“Saya juga agak malas nimpali sampeyan. Tapi demi memuaskan keingintahuan saya, apa boleh buat. Tolong jujur, mengapa sampeyan merasa ikuti terusir dari surga?”
“Ya, karena saya adalah anak keturunan Adam?”
“Siapa yang jamin bahwa sampeyan anak keturunan Adam?”
“Lha kan saya sama-sama manusia. Adam nenek moyang manusia. Gitu aja kok ditanyaain”.
“Jangan mentang-mentang karena sama-sama manusia, sampeyan mengaku keturunan Adam. Apa Adam sudah mengakui sampeyan itu keturunannya? Adam belom pernah ketemu sampeyan kan? Jangan ge-er sampeyan!”
 
“Itu ndak penting ditanyakan. Yang penting, semua manusia itu keturunan Adam”.
“Kalo begitu, semestinya sampeyan bersyukur dan berterima kasih kepada Adam. Bukan malah menyalahkan. Kalo Adam swaktu-waktu nemuin sampeyan, sampeyan pasti dipenthung. Masih untung sampeyan dijadiin manusia. Coba kalo sampeyan sejak lahir jadi monyet, nasib sampeyan bisa jadi kaya Sarimin yang disuruh-suruh pergi ke pasar. Sampeyan mau?”
“walahhhhh T^%&$%^#“


Akhirnya cerita Kyai kocak saya update lagi setelah beberapa minggu vakum,credit for pak abdul muttaqin penulis Kyai Kocak.semoga terhibur dengan kekocakan kyai satu ini,Salam Yang PEnting share,Official of Kyai kocak Story.Dapatkan cerita lainnya di daftar cerita kyai kocak

Tampilan terbaik menggunakan Google chrome dan Mozilla +5 layar 1280x854

10 Jul 2011

Rehat Bersama Kyai Kocak "Jam Kosong"

Rehat Bersama Kyai Kocak "Jam Kosong"

“Mbrakbaaaal…saya dikadalin. Sungguh terlaluhhh”.

“Lha, ono opo? Pagi-pagi sudah nyanyi tembang kesengsaraan”.

“Itu kyai … kelas banyak yang kosong”.

“Lha, ini kan jam belajar. Ndak mungkin kosong”.

“Lha itu buktinya. Siswa teriak-teriak ndak ada gurunya”.

“Ooo … ndak ada gurunya bukan berarti kelas itu kosong, toh?”

“Kyai ini piye? Gurunya ndak masuk ngajar. Makanya kelas kosong”

“Lha, siswanya ada di kelas ndak?”.

“Ada. Pada ribut ndak karu-karuan”.

“Ya, kalo masih ada siswa di kelas, namanya ndak kosong. Kalo kosong ndak ada gurunya, ndak ada siswanya”.

“Kalo gurunya ndak masuk, maka istilahnya kelas kosong kyai”.

“Halah, istilah kok, ndak menunjukkan pengertiannya”.

“Ya memang dari dulu begitu istilahnya, kyai”.

“Lha, gurunya memang pada kemana ndak masuk?”

“Ini yang saya ndak habis pikir. Masa, lebih mementingkan jenguk orang yang baru pulang umroh ketimbang ngajar. Lepas ngajar kan bisa. Kalo begini, kan anak-anak bangsa yang dikorbankan”.

“Ah sampeyan dipolmatis. Biasa aja lagee”

“Lha, kyai kok terkesan membela mereka. Sudah jelas mereka ndak disiplin”.



“Sampeyan sudah periksa silabus mereka belom?”

“Lha, apa hubungannya dengan silabus?”

“Sudah sampeyan periksa belom? Sampeyan kan kepala sekolah. Harus jeli”.

“Sudah. Sudah saya tanda tangani”.

“Lha dibaca ndak?”

“Ya tidak tuntas sih”.

“Lha itu keteledoran sampeyan. Sampeyan wajib tau, apa yang ditulis guru dalam silabusnya”.

“Ya tapi, apa hubungannya dengan ninggalin kelas mementingkan jenguk orang yang baru pulang umroh?”

“Lha, siapa tahu ada satu kompetensi dasar tentang sillaturrahim. Lalu guru sampeyan buat indikatornya begini, ‘Mampu menerapkan budaya kunjung mengunjungi kepada sesama muslim yang baru pulang umroh’. Sampeyan mau bilang apa? Silabus sudah sampeyan tanda tangani. Mau apa coba?”

“Kok, saya ndak kepikiran ya?”

“Nah makanya, sampeyan jangan uring-uringan dulu. Bisa jadi mereka yang benar, sampeyan yang ndak teliti”.

“Kalo saya marah, salah ndak kyai? Saya kan kepala sekolah”.

“Lha justeru karena sampeyan kepala sekolah, sampeyan itu harus lebih ngerti dari guru-guru sampeyan. Kalau kepala sekolah gampang marah, ndak baik. Kaya sampeyan ndak pernah jadi guru biasa saja”.

“Tapi kalo saya diam saja, malah nanti mereka semakin seenaknya”.

“Ya jangan diam saja”



“Lha terus, saya harus berbuat apa?”

“Bilang saja baik-baik, ‘terima kasih pak, terima kasih bu. Bagaimana kunjungan ke rumah orang yang baru umroh itu? Semoga banyak berekatnya. Saya do’akan, InsyaAllah, besok atau lusa, bapak atau ibu yang berangkat umroh. Biar bisa lebih lama ninggalin siswa-siswa di kelas’. Bilang begitu. Ndak usah pake marah. Nanti juga mereka mikir”.  

“Yah, kyai. Kaya ndak kenal mereka saja. Pastinya mereka punya jawaban.’Ah, bapak. Sekali aja ninggalin kelas, apa ruginya sih’. Nah, kalo sudah begitu, saya mau gimana lagi?”

“Ya harus tambah percaya”.

“Tambah percaya apa?

“Lha ya guru kan, memang pandai ngeles. Ngeles Matematika, ngeles Fisika, ngeles bahasa Inggris, termasuk ngelesssss …..”.

“Halah! Mbrakbal kyai”.



Akhirnya cerita Kyai kocak saya update lagi setelah beberapa minggu vakum,credit for pak abdul muttaqin penulis Kyai Kocak.semoga terhibur dengan kekocakan kyai satu ini,Salam Yang PEnting share,Official of Kyai kocak Story.Dapatkan cerita lainnya di daftar cerita kyai kocak

Tampilan terbaik menggunakan Google chrome dan Mozilla +5 layar 1280x854

6 Jun 2011

Rehat bersama kyai kocak _"kismin eh miskin"

Rehat bersama kyai kocak _"kismin eh miskin"

“Hidup saya kok, selalu susah ya kyai”
“Jangan ngeluh. Ndak baik. Siapa tahu, itu cuma perasaan sampeyan saja”.
“Lha, kenyataan hidup saya memang susah terus kyai. Ndak pernah merasakan enak”.
“Moso sih? Mana ada orang ndak pernah merasakan enak. Jangan muna sampeyan”.
“Terserahlah kyai mau bilang apa. Yang merasakan kan saya sendiri, bukan kyai. Apa lagi anak saya tujuh. Halah … lieurrrrrrrrr”.
“Lha ya di sini sampeyan itu munafik”.
“Lho kok munafik?”
“Lha ndak enak kok, anak bisa sampe tujuh. Itu namanya mengingkari nikmat”.
“!???”

....................................

“Ya ndak usah melotot. Kyai kok diplototin. Kwalat sampeyan”.
“Bukan yang itu maksudnya. Kyai salah tangkap”.
“Lha sampeyan ndak ngasih tahu”.
“Allah kan pernah janji mau merubah nasib ummat-Nya. Tapi kenapa saya tetep miskin... susah, padahal sudah kerja keras.”
“Sekeras apa kerja sampeyan?”
“Lha saya sudah kerja keras. Tiap hari kerja keras. Saya jadi kuli panggul di pasar, itu kerja keras kyai”
“Sampeyan ora ngerti, zaman edan kaya gini, orang tidak cukup hanya kerja keras. Tapi juga harus kerja cerdas”.
“Halahh … kuli panggul saja kok, harus cerdas. Yang pada cerdas, malah pada korupsi. Sudah korupsi, kabur lagi. Pura-pura sakit. Pura-pura lupa. Huh …. Ndak adil. Yang jujur, tetep saja miskin”.
"Lha, sampeyan mau. Jadi kaya, tapi dijidat sampeyan ada tulisan “koruptor”?
“Ya ndaklah. Malu dunia akherat”.
“Lha itu ngerti. Sampeyan syukuri saja apa yang Allah beri. Yang penting sampeyan bisa ibadah. Kebutuhan keluarga sampeyan yang pokok, masih bisa dipenuhi. Apa upah kuli panggul ndak cukup untuk makan sehari-hari?”


....................................

“Ya kalo bicara sekedar cukup untuk makan dengan tahu dan tempe, ya cukup. Tapi kan saya juga pengen punya rumah. Ndak Ngontrak melulu”.
“Banyak juga yang ndak bisa makan walaupun hanya dengan tahu tempe. Banyak juga yang ndak sanggup ngontrak. Tidurnya di emperan. Lha sampeyan, anak punya tujuh, makan masih setiap hari. Kontrakan punya. Mau apa lagi?”
“Ya mau kaya. Saya pingin kaya kyai”.
“Ya salaaaaam. Sampeyan itu kaya, cuma sampeyan ndak sadar sampeyan itu kaya”.
“Ndak, saya miskin. Kyai cuma menghibur. Ndk mempan”.
“Ya sudah. Terserah sampeyan. Orang kok, ngotot ngaku miskin”.
“Saya ngaku miskin, karena saya ingin kaya. Kyai juga pasti tidak ingin miskin kan?”
“Ya ndak”.
“Kyai juga pengen kaya kan?”
“Ndak juga”.


....................................

“Lha, piye?. Miskin ndak mau. Kaya ndak mau. Maunya opo?”
“Maunya ya , ndak miskin ndak kaya”.
“Hidup model apa begitu? Orang kalo ndak miskin, ya kaya. Kalo ndak kaya, ya miskin. Hanya ada dua, miskin atau kaya”.
“Sampeyan tahunya cuma kaya-miskin, kaya-miskin. Lebih enak hidup pas-pasan”.
“Hwahahahahahaha …pas-pasan itu sama saja dengan miskin kyai. Saudara kembar”.
“Siapa bilang?”
“Saya. Apa enaknya hidup pas-pasan”.
“Wuenak. Serba menyenangkan. Hidup tenang. Ibadah tenang. Siang malam tenang”.
“Kyai kok, gombal”.
“Sampeyan yang akalnya ndak sampe”.
“Jangan menghina kyai. Walaupun saya miskin, saya juga manusia yang punya perasaan”.
“Perasaan sampeyan sudah tumpul. Ndak ngerti enaknya hidup pas-pasan”.
“Tulung dah, apa sih enaknya hidup pas-pasan”.
“Neee … pas pengen mobil bisa beli. Pas pengen rumah bisa beli. Pas pengen umroh bisa pergi. Pas pengen sedekah bisa memberi. Pas peng …..”.
“Sompreeeeeeeet!”.
Wkwkwkwkwkwkwk.


Tampilan terbaik menggunakan Google chrome dan Mozilla +5 layar 1280x854

3 Jun 2011

Daftar Isi Kyai Kocak (Update Terus)

Assalamualaikum wr.wb
Di blog Yang penting share ini bakal ada cerrpen kisah tentang kehidupan kyai kocak(bukan nama sebenernya),seorang pemuka agama (islam) tentunya,yang sangat kolot,gag gaul,and juga tua(namanya kyai)hehehe.,tetapi akal dan kecerdikannya serta ilmu pengetahuan nya tentang islam subhanallah sangat lah luar biasa.Dalam kehidupannya (pada cerpen ini),kyai kocak akan menshare pengalamn hidupnya yang membuat kita tersenyum atau bahkan tertawa sendiri,melihat fenomena dan kondisi masyarakat kita pada saaat ini.Semoga cerita -cerita ini dapat menghibur,sekaligus menjadi tauladan kita dalam kehidupan kita untuk lebih mendekatkan diri kepada yang Maha Kuasa.Amin.

Special thanks for Bapak Abdul Muttaqin,selaku orang yang memliki ide untuk membuat cerita yang sarat hikmah ini,menghidupkan suatu karakter bernama 'kyai kocak',dan mengizinkan saya untuk menshare nya di blog ini .Semoga cerita ini dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang membacanya,dan bapak senantiasa dilimpahan rahmatt,karunia,serta pahala atas kreativitas bapak dalam menyampaikan suatu dakwah lewat cerita moral ini. Amin ya robal alamin

berikut adalah episode-episode cerita Kyai 'kocak' ini.Dan saya harapkan jangan ada namanya plagiatisme,kalo para pembaca tertarik,alangkah baiknya minta izin kepada bapak Abdul muttaqin,karena ini adalah ide beliau.Blog ini adalah salah satu media penyampaiannya.
biodata Abdul muttaqin berikut fbnya bisa anda lihat disini "Abdul mutaqin facebook"
Daftar cerpen Rehat bersama Kyai kocak :
  1. Rehat Bersama Kyai Kocak_ "Sunan Kudus Salah Orang”
  2. Rehat Bersama Kyai Kocak_ "Cuci Muka Sampeyan” 
  3. Rehat Bersama Kyai Kocak_ "Babi Aja Kaga Protes”
  4. Rehat Bersama Kyai Kocak_ "Otak Kancil"
  5. Rehat Bersama Kyai Kocak_ "Tuhan Itu Agamanya Apa? ” 
  6. Rehat Bersama Kyai Kocak_ "Di Surga Tidak Ada Nenek-nenek”
  7. Rehat Bersama Kyai Kocak_ "Kamu Saya Cerai!
  8. Rehat Bersama Kyai KocaK_"Ini Dia Bukti Keberadaan Tuhan" 
  9. Rehat Bersama Kyai KocaK _"Dinosaurus itu Halal atau Haram? 
  10. Rehat Bersama Kyai KocaK _"manusia 6666 bulu"
  11. Rehat Bersama Kyai KocaK _"Najis Mughalazah"
  12.  Rehat Bersama Kyai KocaK _"Kismin Eh Miskin
  13. Rehat Bersama Kyai Kocak "Jam Kosong"
NB:Mohon maaf mungkin cuma sampai disini seri kyai kocak,untuk yang berikutnya silahkan baca di bukunya.Bukunya masih dalam tahap penulisan menurut pengarangnya,jadi tidak dipublikasikan dulu.

(NB : Cerita ini bakal di update Bila ada Ide lagi,Silahkan Mengirimkan Ide ceritanya Dibagian Contact ME Bila berminat,Mari tebarkan Dakwah melalui Media  )

Tampilan terbaik menggunakan Google chrome dan Mozilla +5 layar 1280x854