30 Nov 2012

Benteng Kuto Besak

BENTENG KUTO BESAK

Sejarah Berdirinya

Benteng Kuto Besak atau sering disebut dengan singkatan BKB ini merupakan bangunan peninggalan sejarah pada masa Kesultanan Palembang Darussalam. Pada abad ke-17 Masehi itu, kebudayaan Islam hadir dan terus mengakar, terutama pasca-kemunduran Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-13 Masehi.

Gagasan mendirikan Benteng Kuto Besak diprakarsai oleh Sultan Mahmud Badaruddin I yang memerintah pada tahun 1724-1758 dan pelaksanaan pembangunannya diselesaikan oleh penerusnya yaitu Sultan Mahmud Bahauddin yang memerintah pada tahun 1776-1803.

Sultan Mahmud Bahauddin adalah ayah dari Sultan Badarrudin II ini adalah seorang Tokoh kesultanan Palembang Darussalam yang realistis dan praktis dalam perdagangan internasional, serta seorang agamawan yang menjadikan Palembang sebagai pusat sastra agama di Nusantara. Menandai perannya sebagai sultan, ia pindah dari Keraton Kuto Lamo ke Kuto Besak. Belanda menyebut Kuto Besak sebagai nieuwe keraton alias keraton baru.

Keunikan Benteng

Benteng ini mulai dibangun pada tahun 1780 dengan arsitek yang tidak diketahui dengan pasti dan pelaksanaan pengawasan pekerjaan dipercayakan pada seorang Tionghoa. Semen perekat bata menggunakan batu kapur yang ada di daerah pedalaman Sungai Ogan ditambah dengan putih telur.

Benteng Kuto Besak (BKB) dibangun untuk menggantikan keraton lama, Benteng Kuto Lamo, yang disebut juga Keraton Kuto Tengkuruk atau Keraton Kuto Lamo, yang berlokasi persis di samping kiri. Keraton Kuto Tengkuruk lalu menjadi rumah tinggal residen Belanda. Saat ini, Keraton Kuto Tengkuruk difungsikan menjadi Museum Sultan Mahmud Badaruddin II. Berbeda dengan letak keraton lama yang berlokasi di daerah pedalaman, keraton baru berdiri di posisi yang sangat terbuka, strategis, dan sekaligus sangat indah. Posisinya menghadap ke Sungai Musi. Salah satu ciri khas terletak pada keberadaan tiga bastion (istilah untuk konstruksi batu).

Asal Usul Nama

Kenapa disebut Benteng Kuto Besak?. Awalnya Sultan Bahauddin menamakannya Keraton Kuto Besak atau Keraton Kuto Tengkuruk.Pada masa itu, Kota Palembang masih dikelilingi oleh anak-anak sungai yang membelah wilayah kota menjadi pulau-pulau. Kuto Besak pun seolah berdiri di atas pulau karena dibatasi oleh Sungai Sekanak di bagian barat, Sungai Tengkuruk di bagian timur, dan Sungai Kapuran di bagian utara.

Tidak leluasa

Benteng Kuto Besak saat ini ditempati oleh Komando Daerah Militer (Kodam) Sriwijaya.Pembangunan dan penataan kawasan di sekitar Plaza Benteng Kuto Besak diproyeksikan akan menjadi tempat hiburan terbuka yang menjual pesona Musi dan bangunan-bangunan bersejarah.

Jika dilihat dari daerah Seberang Ulu atau Jembatan Ampera, pemandangan yang tampak adalah pelataran luas dengan latar belakang deretan pohon palem di halaman Benteng Kuto Besak, dan menara air di Kantor Wali Kota Palembang.

Walau berdiri kokoh, warga Palembang dan wisatawan dari luar daerah dan mancanegara saat ini hanya bisa menyaksikan BKB dari luar. Benteng yang dikelola Kodam Sriwijaya itu telah dialihfungsikan menjadi Kantor Kesehatan Kodam Sriwijaya dan rumah sakit.

Warga tak bisa leluasa masuk ke dalam benteng karena pintu masuk dijaga ketat aparat. Sejumlah warga yang dimintai pendapat sebenarnya menginginkan BKB dikelola pemerintah saja.

Sejarawan dan budayawan Djohan Hanafiah juga menilai pengembalian BKB dari militer kepada pemerintah sangat tepat. Untuk mewujudkan itu, Djohan bersama sekelompok masyarakat pernah berjuang mengembalikan bangunan itu kepada negara.

Setelah sampai di tangan Panglima TNI, perjuangan Djohan justru terhenti. Menurut dia, pemerintah terbentur soal biaya perawatan. Dengan kata lain, pemerintah daerah mempersilakan pihak militer mengelola BKB.

Dikutip dari :

Tampilan terbaik menggunakan Google chrome dan Mozilla +5 layar 1280x854

16 comments:

  1. keren juga.
    cob Di Bandung ada benteng kayak gitu, narsis2 an deh :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. masa di Bandung kagak ada? perasaan ada deh peninggalan2 gitu

      Delete
  2. apa bentengnya gak bau amis tuh..??
    kalau bahan semennya dari batu kapur dicampur dengan putih telur. hehe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. itulah uniknya orang dulu :D semuanya punya ilmu yg gak kita tau

      Delete
  3. seberapa lebar benteng ituh.. dilihat2 keknya lebar sangat

    ReplyDelete
    Replies
    1. lebarrrrr sangaattt gak tau berapa hehe

      Delete
  4. wwiiihh bentengnya sungguh luar biasa nih... nih adalah warisan sejarah...

    ReplyDelete
    Replies
    1. yup2 peninggalan belanda tentunya ehehe

      Delete
  5. Wah,sayang Benteng peninggalan sejarah susah dinikmati warganya.
    Seperti di Jogja ada Benteng Van De Burg. Cuman disana masyarakat bebas untuk masuk dan mengenal sejarah yang didalamnya :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. yup di Jogja juga ada :D wah enak ya masih bebas :D

      Delete
  6. Heheheheh wah kamu narsis banget bang, emmm yang mana ya kayaknya sama semua deh...... :D sulit bedainnya.....

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaa masa sehhh? aq kan yg paling ganteng sendiri difoto wakwwk

      Delete
  7. lama nih ane kagak kemari,,,
    saya nongol lagi :D

    ReplyDelete