25 Jan 2014

Kebebasan atau Kebablasan ?

bebasan

bablasan

Kebebasan atau kebablasan? dua kata yang sengaja saya plesetkan. Kebebasan adalah suatu keadaan dimana kita bebas untuk melakukan apapun, bicara apapun, menulis apapun, membaca apapun dan mendengar apapun. Dahulu kebebasan itu barang mahal harganya,demi suatu kebebasan yang disebut juga kemerdekaan , para pejuang kita terdahulu yang beribu-ribu jumlahnya (kalau gak yakin hitung sendiri) telah mengorbankan dari harta, jiwa serta keluarga mereka demi sebuah kemerdekaan (kebebasan) itu.

Setelah tahun 1945, kita mendapatkan yang katanya "kebebasan" itu. Walaupun kembali terenggut di zaman Orde Baru dengan hadirnya rezim (bisa dibilang demikian) Soeharto. Namun dizaman ini,anehnya walau kebebasan pers dikekang dan dikontrol pemerintah, tidak bisa kita pungkiri, pembangunan di negeri yang kita cintai ini maju pesat, walau pada akhirnya, beliau meninggalkan warisan yang sangat membebani generasi selanjutnya, yakni "hutang negara" yang tidak tahu kapan lunasnya.

Sekarang sudah zaman reformasi, dunia pun sudah mengakui kebebasan seperti yang tercantum dalam declaration of Human Rights. Sekarang setiap orang bebas mau ngapain saja, media massa pun demikian. Mereka tidak takut lagi untuk bicara, menulis dan melakukan apapun. Namun, apa jadinya jika kebebasan itu kebablasan?

Kebablasan yang dimaksud adalah melebih batas. Bukankah Pencipta kita juga tidak suka orang -orang yang melebihi batas? Apa yang dimaksud dengan kebablasan kebebasan sekarang bisa kita lihat di segala bidang. Sebut saja, bebas bergaul (jadinya pergaulan bebas, bebas korupsi, bebas hukum, bebas penjara (karena sogokan), bebas menyiarkan berita, menulis artikel ( walau terkadang berita itu tidak benar atau sudah ditambah-tambah dengan tujuan komersil), bebas membuat program tv (mementingkan rating dan minat penonton dengan tujuan komersil ketimbang nilai moral dan pendidikanya), bebas menonton acara tv/video(walau tidak sesuai dengan usia), bebas beragama (katanya sih begitu tapi dibeberapa tempat masih ada pengucilan terhadap agama tertentu), bebas gender (istilahnya sih emansipasi),bahkan ada yang bisa bebas membunuh( sebut saja salah satu satuan aparat yang mempunyai hak untuk membunuh teroris atau juga yang tidak bersalah namun dikira teroris).

Apakah ini kesemuanya efek dari suatu sistem pemerintahan yang disebut Demokrasi? saya malah menyebutnya democrazy.Demokrasi di Indonesia masih simpang siur, demokrasi ciptaan Amerika. Walau saya adalah seorang mahasiswa Bahasa inggris yang tidak ada hubungannya dengan mata kuliah sejarah maupun politik, saya adalah penyuka hal-hal berbau sejarah walau saya bukan peminat buku politik.

Sejarah membuktikan negara-negara penganut demokrasi tidak akan berhasil, bahkan hancur. Demokrasi yang nyata sekarang berbeda jauh dari idealisnya.Katanya demokrasi itu dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Oke yang pertama dan yang kedua benar, dari rakyat , memang benar kita memilih wakil kita dari kalangan kita(walau berbeda derajat), oleh rakyat (karena kita yang memilih).Namun, yang ketiga, tidak bisa kita benarkan. Kenapa? Untuk rakyat, itu cuma slogan. Saya sebenarnya anti politik, karena politik itu kotor, seperti yang pernah dikatakan Soe Hok Gie,"Bagiku sendiri, politik adalah barang yang paling kotor. Lumpur-lumpur yang kotor. Tapi suatu saat di mana kita tidak dapat menghindari diri lagi, maka terjunlah".

Kita sebagai rakyat sudah bosan dengan janji-janji manis yang diberikan calon-calon pemimpin "wakil rakyat". Seharusnya kita sadar, mereka adalah wakil kita. Ya , wakil kita, yang harusnya mewakili aspirasi rakyatnya, bukan mewakili kalau kita ingin kaya, mereka yang wakili, kalau kita ingin mobil mereka sudah wakili, kita ingin makan enak mereka juga wakili, kalau kita ingin jalan-jalan luar negeri, mereka lagi yang wakili. Istilah kerennya sih demokrasi terpimpin, terpimpin dalam hal keterwakilan itu.

Sekarang setiap orang yang mempunyai "kelebihan" bisa dengan bebas menjadi calon wakil rakyat, bahkan terkadang berpindah-pindah (nomaden) dari satu partai dengan partai lainnya. Dampak dari kebebasan ini tentu akan membingungkan kita, lah calon pemimpin kita saja tidak loyal kepada partai, apalagi kepada rakyatnya?

Janji manis yang mereka tebarkan, bantuan-bantuan kecil yang mereka berikan dengan mengharap suara-suara kita, jarang ceritanya mereka "jadi" akan mikirin kita. Dalam istilah ekonomi mereka harus balikin modal, betul gak? Itulah mengapa salah satu penyebab Bebas Korupsi dinegara kita sulit diberantas.

Kita harus sadar kebebasan yang kebablasan menjadi penyebab hancurnya diri sendiri, keluarga, bahkan bangsa dan negara. Terdengar sedikit ngelantur dan membosankan, karena tulisan ini terefleksi dari kenyataan yang ada. Toh benar atau salahnya itu kita semua punya pendapat masing-masing. Kan ini negara Demokrasi?

Baturaja, 2014

Tampilan terbaik menggunakan Google chrome dan Mozilla +5 layar 1280x854

10 comments:

  1. Benar.... :/ Emmm andaikan ada 10 orang seperti Pak Jokowi mungkin Indonesia ini akan lebih makmur dan sejahtera.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan suka terlalu berandai2 , seandainya saja, jika saja, kalau saja. kenapa gak bilang " saya bisa dan lebih dari beliau nanti? bilang itu kepada diri sendiri, kita tentu gak bisa nyuruh orang jadi seperti beliau, kalau kita sendiri juga belum bisa menyuruh diri kita sendiri berubah, betul gak?

      Delete
    2. Iya saya tahu, maksud saya kan mengibaratkan dengan realitas yang ada sekarang.

      Untuk masalah sugesti tersebut, pasti semua orang selalu ingin menjadi atau lebih dari beliau. Tetapi semua kan juga tergantung usaha dan niat masing-masing... :)

      Ya kita berdoa saja semoga generasi mendatang dapat memimpin Indonesia menjadi bangsa yang lebih baik daripada sekarang.

      Delete
    3. ya usahanya doa itu :D

      Delete
  2. Beberapa Pejabat modaLnya hanya Pulpen dan usahanya dagang Tanda-Tangan.
    Politikus modaLnya mulut manis, usahanya jualan mimpi.
    Beberapa penegak hukum modaLnya kitab UU, usahanya barter PasaL Tuntutan.

    ReplyDelete
  3. Ya ampun, udah lama ga jalan2 ke blog temen jadi kangen postingan blogazine kayak gini bang XD tetep kerennnnn!

    ReplyDelete
  4. sekrang sudah bias buat kita kebebas dan apa akhirnya kebabalaspun menjadi meraja rela entah dimana, acara tv pun sudah tidak lagi mendidikan. semua sudah tidak ada nilai tuk pendidikan.

    sama aja mengaku negara hukum.. tapi para pejabat terus aja korupsi tuk kepntingan mereka...

    sudah kebablasan semuanya.... :D

    ReplyDelete
  5. Cagalli… politics isn't about idealism. It's about reality.

    Gundam Seed Destiny

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kutipan yang bagus kang Taufik... :D

      Delete
  6. Ya ya ya,, Politik cuman untuk ngeruk duit rakyat, banyak-banyak partai buat apa coba, nothing semua. Alasan klasik partai baru: Indonesia butuh perubah. Preeettt.. Ngemeng2 gw udah lama banget gak mampir di mari yak.. :D

    ReplyDelete